JEJAK WAKTU : Salemba dan Bogor, Dua Kota yang Membentuk Kami
Ada tempat-tempat yang setelah puluhan tahun ternyata tidak pernah benar-benar kita tinggalkan.
Bagi kami, dua di antaranya adalah Salemba di Jakarta dan Kota Hujan, Bogor.
Di dua kota itulah, jauh sebelum kami menjadi suami istri, kami masing-masing sedang belajar menjadi dewasa. Lukman dengan dunianya di Salemba, dan aku dengan kehidupan baruku sebagai anak kost di Bogor.
Kami belum tahu bahwa dua perjalanan yang berbeda itu kelak akan bertemu dan menjadi satu perjalanan panjang bernama keluarga.
SALEMBA
Menyebut Salemba 4 tidak bisa dilepaskan dari Universitas Indonesia, sebelum sebagian besar fakultasnya kemudian berpindah ke Depok.
Bagi keluargaku, menyebut Salemba 4 juga berarti kembali pada cerita tentang Lukman Hakim.
Tahun 1971, seorang pemuda yang baru lulus dari SMA 3 Palembang itu diterima di Universitas Indonesia.
Keinginannya sejak awal memang masuk UI. Lebih tepatnya, ia ingin keluar dari Palembang.
Padahal di kotanya sendiri ada Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang juga diminati banyak lulusan SMA di Palembang. Tetapi Lukman sudah punya keinginan lain.
Untuk meyakinkan ayahnya, ia memilih jurusan Farmasi yang tidak ada di Universitas Sriwijaya. Saat itu perusahaan obat sedang banyak tumbuh dan berkembang di Indonesia sehingga pilihan tersebut terdengar cukup menjanjikan. Seandainya putus biaya, di tingkat sarjana muda sudah bisa bekerja. Akhirnya ayahnya mengijinkan.
Keinginannya akhirnya tercapai: keluar dari Palembang, pindah ke Jakarta, dan kuliah di Jurusan Farmasi FIPIA UI.
Di kampus inilah Lukman menempuh pendidikan Farmasi hingga Apoteker.
Namun Salemba memberinya lebih dari sekadar pendidikan dan ijazah.
Di sinilah ia belajar memimpin. Mulai dari Ketua Senat, hingga kemudian dipercaya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.
Tahun-tahun 1977–1978 bukan masa yang sederhana bagi kehidupan kampus. Gelombang kritik mahasiswa terhadap pemerintah ketika itu direspons dengan penangkapan.
Penahanan pertama pada tahun 1977 berkaitan dengan pembentukan DPRS. Penahanan kedua terjadi pada tahun 1978, ketika itu ia ditahan di RTM Guntur.
Setelah keluar dari RTM Guntur, prosesnya berlanjut ke Pengadilan Mahasiswa.
Di sana Lukman menyampaikan pledoi berjudul Kudengar Indonesia Memanggil. Judul itu dipilih setelah mendapat masukan dari Eka Budianta.
Di tengah segala dinamika itu, kuliahnya tetap bisa diselesaikan.
Ijazah Sarjana Farmasi dan Apoteker akhirnya tetap berada dalam genggamannya.
Salemba telah menjadi salah satu tempat yang membentuk Lukman muda.
Ketika Lukman menjalani tahun-tahunnya di Jakarta, di kota lain aku pun sedang belajar menjadi dewasa dengan caraku sendiri.
BOGOR
Tahun 1976 aku meninggalkan rumah untuk kuliah di Kota Hujan, Bogor.
Sebenarnya aku belum siap hidup mandiri.
Selama ini aku tinggal bersama orang tua yang selalu hadir menemani dan hampir semua kebutuhan tersedia. Tiba-tiba aku harus mengurus diri sendiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan mengenal kehidupan yang sama sekali berbeda.
Termasuk mulai memahami bahasa Sunda yang saat itu masih asing di telingaku.
Aku tinggal di sebuah rumah kost milik seorang dosen, tepat di seberang kampus.
Rumahnya cukup besar. Bahkan lima puluh tahun yang lalu, kamar kostku sudah memiliki kamar mandi sendiri. Sebuah kenyamanan yang tentu tidak semua mahasiswa rasakan pada masa itu.
Ibu Kost juga menyediakan dapur yang boleh kami gunakan bersama.
Kami kemudian sepakat mempekerjakan seorang bibi untuk memasak. Belanja ke pasar, menyusun menu, menghitung pengeluaran, semuanya kami kerjakan bersama.
Setiap kamar mendapat giliran mengelola keuangan rumah tangga kecil kami.
Hal-hal yang sekarang terlihat sederhana itu ternyata menjadi bagian dari proses belajarku.
Aku mulai belajar bahwa hidup bukan hanya soal datang ke kampus, kuliah, lalu pulang. Ada uang yang harus diatur, kebutuhan yang harus dipikirkan, keputusan yang harus dibuat, dan orang lain yang harus diajak bekerja sama.
Tempat kost itu akhirnya menjadi sekolah kehidupan pertamaku.
IPB memberiku pendidikan untuk menjadi dokter hewan. Tetapi kehidupan di rumah kost mengajarkanku sesuatu yang tidak kalah penting: hidup mandiri, mengambil keputusan sendiri, dan perlahan menjadi dewasa.
JAKARTA – BOGOR
Di kota tempat aku sedang belajar hidup mandiri, aku kemudian mengenal seorang pemuda yang datang dari Salemba.
Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, Lukman cukup sering datang ke Bogor untuk rapat-rapat intens dengan mahasiswa, termasuk di IPB.
Di Bogor itulah, tanpa kami sadari, dua kehidupan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai bersinggungan.
Ada perkenalan yang bermula dari kegiatan kemahasiswaan.
Selebihnya, biarlah waktu yang bercerita.
Di jendela itu dia mengetuk sambil bersiul, tanda dia datang.
Dan buru-buru aku menuju ruang tamu, menemuinya.
Jakarta dan Bogor hanya berjarak sekitar 50–60 kilometer.
Tetapi pada masa itu belum ada jalan tol. Perjalanan dengan bus bisa memakan waktu dua hingga tiga jam.
Jarak yang sekarang mungkin terasa biasa, ketika itu terasa cukup jauh.
Namun rupanya ada jarak yang memang harus ditempuh sebelum dua perjalanan bisa bertemu.
Kami tentu belum tahu bahwa Jakarta dan Bogor kelak hanyalah dua titik awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
LIMA PULUH TAHUN KEMUDIAN
Waktu terus berjalan.
Hampir lima puluh tahun kemudian, kami kembali menengok kedua tempat itu.
Salemba 4 masih ada, meskipun banyak hal telah berubah. Beberapa gedung telah berganti fungsi.
Begitu pula Bogor.
Rumah kost yang dahulu menjadi tempatku belajar hidup mandiri bahkan sudah berubah menjadi sebuah resto.
Ada rasa aneh muncul di hati. Sulit rasanya menguraikan perasaanku saat itu.
Tak pernah terbayangkan bahwa rumah yang dahulu menjadi saksi seorang anak muda belajar mengatur hidupnya sendiri, puluhan tahun kemudian menjadi tempat orang datang untuk menikmati hidangan.
Bangunannya boleh berubah. Fungsinya pun boleh berganti.
Tetapi kenangan rupanya mempunyai tempatnya sendiri.
Kembali ke Salemba dan Bogor bukan semata-mata perjalanan melihat tempat lama.
Kami seperti sedang menemui dua anak muda yang pernah tinggal di sana.
Seorang pemuda dari Palembang yang datang ke Jakarta dengan tekad ingin kuliah di UI, lalu menemukan dunia yang jauh lebih besar daripada ruang kuliah.
Dan seorang gadis yang datang ke Bogor, belum benar-benar siap hidup jauh dari orang tua, lalu perlahan belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Maka ketika kembali ke Salemba dan Bogor hampir lima puluh tahun kemudian, rasanya seperti ingin mengatakan satu hal sederhana kepada masa muda kami:
Terima kasih.
Sebab dari ruang-ruang sederhana di Salemba dan Bogor itulah Allah mulai menulis perjalanan hidup kami.
Dua orang bertumbuh di kota yang berbeda, ditempa dengan cara yang berbeda, hingga pada waktu yang telah ditetapkan-Nya dipertemukan pada satu titik hingga dipersatukan menjadi satu keluarga.

.jpeg)



.jpeg)
Berasa ikut berjalan di memory lane. Well-written.
ReplyDeletegitu ya... Yang satu memang sudah pengen keluar dari Palembang dan siap mandiri, sedangkan satunya belum siap mandiri. Di Bogor ditempati mandiri
Delete