Posts

Showing posts from August, 2026

PUSAR dan TODAI

Image
Selama 40 tahun, benda kecil ini tetap kami simpan. Benda ini bukan perhiasan, bukan pula suvenir dari sebuah perjalanan. Ini adalah tali pusar anak kedua kami, Aldian, yang lahir di Jepang. Dulu, benda ini tidak sendirian. Saat akan meninggalkan Saitama Chuo Hospital, seorang perawat memberikan sebuah kotak kayu kecil kepada kami. Di dalamnya ada tali pusar bayi-ku yang baru lahir. Di Jepang memang ada kebiasaan menyimpan tali pusar bayi, yang dikenal sebagai heso no o (へその緒). Bagi keluarga Jepang, tali pusar yang disimpan itu menjadi kenangan dari hari kelahiran sekaligus simbol ikatan antara ibu dan anak. Kotaknya kecil, terbuat dari kayu, dengan hiasan cantik di bagian tutupnya. Aku masih ingat ketika perawat menyerahkan kotak itu kepada kami. Sambil tersenyum, ia berkata: “Silakan, pusar ini ditanam di halaman Tokyo University supaya kelak anaknya bisa kuliah di sana.” Aku pun menerima kotak tersebut sambil tersenyum dan membungkuk seperti layaknya orang Jepang. Dari C...

Bu Wartina dan ritual kecil yang bertahan hampir dua puluh tahun

Image
  Di rumah kami, pijat bukan sekadar urusan pegal linu. Ia sudah seperti bagian dari perjalanan keluarga.   Sejak bayi, keluarga kami membiasakan memijat bayi. Ibu dan mbah-mbahku sering mengatakan bahwa bayi perlu dipijat supaya peredaran darah bagus, bisa relaks dan tidur lebih nyenyak.     RITUAL PIJAT DAN MINUM JAMU   Menginjak usia remaja, setiap selesai datang bulan, hampir wajib dipijat dan sama wajibnya dengan minum jamu. Ibu sudah pasti menyiapkan pemijat dan jamu. Kadang jamu dikirim oleh mbah yang pahitnya bukan main. Saat itu belum ada jamu berbentuk pil atau kapsul. Bentuknya bubuk yang diseduh atau rebusan.   Ritual pijat berlanjut saat habis melahirkan dan tentu tetap minum jamu agar kesehatan pasca melahirkan segera pulih.   Saat aku melahirkan kedua anakku, selain minum jamu bersalin, aku juga menggunakan ramuan yang diletakkan di perut dan pelipis, juga mengenakan bengkung. Bahkan saat aku melahirkan anak kedua di Jepang, ibuku mengir...

Inem

Image
Saat hampir sembilan tahun tinggal di Jepang, sebagai keluarga mahasiswa, kami bisa terbiasa hidup tanpa ART. Semua dikerjakan sendiri, sat-set, dengan pembagian tugas bersama suami. 😊 Tapi rupanya, setelah kembali ke Jakarta, keadaan berbeda. Anak-anak sepenuhnya harus didampingi karena mereka sedang beradaptasi lagi dengan cuaca, bahasa, makanan, dan kehidupan baru. Mereka masih usia SD. Mereka terbiasa dengan kehidupan di Jepang yang rapi dan teratur. Banyak hal yang mereka temui di Jakarta yang sebelumnya tidak pernah mereka jumpai di sana. Hal sederhana, misalnya ketika melihat corat-coret di tembok jalanan. Mereka mencoba mencerna penjelasanku dengan baik, tetapi menurut mereka, hal seperti itu tetap tidak selayaknya dilakukan. Anak-anak yang biasa berjalan kaki dan naik kereta juga tidak mungkin aku ajak berjalan kaki di tengah jalan yang ramai tanpa trotoar. Saat itu belum ada KRL atau MRT seperti sekarang. Yang ada Kopaja dan Metromini, dengan penumpang yang bahkan sering ber...

Lebih dari Empat Puluh Tahun, dan Kami Masih di Sini

Image
42 tahun… Ternyata bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan, tetapi tentang siapa yang memilih tetap tinggal, meski sudah saling tahu kurangnya. Kami tidak selalu sama. Tidak selalu sepakat. Bahkan kadang, diam lebih panjang dari kata. Dan mungkin justru dari semua perjalanan itu, kami pelan-pelan dibentuk menjadi seperti hari ini. Jauh sebelum sampai di titik ini, pernah ada satu keputusan besar dalam hidup saya. Rencananya, anak pertama kami akan dititipkan kepada Bapak dan Ibu, sementara saya berangkat kuliah ke Reading University, Inggris. Semangat saya untuk melanjutkan sekolah sedang sangat tinggi. Beasiswa sudah ada. Saat rencana itu diambil, saya bahkan sedang mengikuti kursus bahasa Inggris di British Councul sebuah lembaga yang ditunjuk, di gedung Wijoyo Center. Di sana kami pernah diperlihatkan film tentang berbagai aktivitas di Reading. Entah kenapa, saat itu perasaan saya benar-benar membuncah. Rasanya, sebentar lagi saya akan berangkat. Tapi bapak berkata...