Posts

Bubur dan Durian: Dua Makanan, Dua Cerita

Image
Ada dua makanan yang punya tempat khusus dalam  cerita  seleraku. Bubur, karena kenangan masa kecil. Durian, karena sebuah pengalaman yang sampai sekarang masih membekas.   Keduanya sama-sama membuatku belajar bahwa pengalaman bisa mengubah cara kita menikmati makanan.   BUBUR Ketika kecil di Surabaya, aku sering mengalami asthma. Setiap asthma kambuh, biasanya ada dokter yang datang ke rumah untuk memeriksa, memberi obat, dan melakukan treatment yang tidak lagi kuingat persis bentuk terapinya.   Seingatku, ada seperti lampu yang menghangatkan dada dan entah apa lagi. Yang masih sangat kuingat justru satu hal: setiap sakit, aku selalu diberi bubur. Awalnya tentu saja kumakan. Tetapi lama-lama bosan.   Sayangnya, bubur tidak bisa kutolak begitu saja. Kata dokter, aku harus makan, sementara makanan lain rasanya tidak berselera. Jadilah bubur makanan wajib setiap kali sakit.   Kalau sudah mulai sehat dan nafsu makan kembali, Bapak punya cara sendiri untuk...

JEJAK WAKTU : Salemba dan Bogor, Dua Kota yang Membentuk Kami

Image
Ada tempat-tempat yang setelah puluhan tahun ternyata tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Bagi kami, dua di antaranya adalah Salemba di Jakarta dan Kota Hujan, Bogor. Di dua kota itulah, jauh sebelum kami menjadi suami istri, kami masing-masing sedang belajar menjadi dewasa. Lukman dengan dunianya di Salemba, dan aku dengan kehidupan baruku sebagai anak kost di Bogor. Kami belum tahu bahwa dua perjalanan yang berbeda itu kelak akan bertemu dan menjadi satu perjalanan panjang bernama keluarga.   SALEMBA Menyebut Salemba 4 tidak bisa dilepaskan dari Universitas Indonesia, sebelum sebagian besar fakultasnya kemudian berpindah ke Depok. Bagi keluargaku, menyebut Salemba 4 juga berarti kembali pada cerita tentang Lukman Hakim.   Tahun 1971, seorang pemuda yang baru lulus dari SMA 3 Palembang itu diterima di Universitas Indonesia. Keinginannya sejak awal memang masuk UI. Lebih tepatnya, ia ingin keluar dari Palembang. Padahal di kotanya sendiri ada Fakultas Kedokteran Universi...

DUA BUDAYA SATU RUMAH

Image
Ketika hati mulai memilih pasangannya dan hubungan sudah berjalan sekian waktu, tentu banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika mulai berpikir untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Di awal perjumpaan, aku mengenalnya sebagai seorang tokoh mahasiswa. Di antara riak gelombang pergerakan mahasiswa itu, diam-diam kami merajut cinta. Tentu berbeda rasanya ketika mulai berpikir, akan dibawa ke mana langkah ini. Ada kekhawatiran, jangan-jangan nantinya dia akan lebih menyukai dunia politik yang mungkin akan banyak menyita waktunya di luar rumah daripada memperhatikan keluarga. Kekhawatiran itu muncul berawal dari ucapan tante kost-ku tentang kebiasaan para aktivis politik yang umumnya lebih asyik dengan dunianya dan sering mengabaikan rumah tangga. Ucapan itu disampaikan karena tante kost-ku melihat seringnya dia datang ke Bogor untuk menemuiku. Ucapan itu terus terngiang-ngiang, sementara waktu berjalan terus.  Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu pelan-pelan berkurang....

BELAJAR MENJAGA KEYAKINAN

Image
Ketika aku memutuskan ikut suami ke Jepang, aku harus menghafal satu huruf kanji terlebih dahulu. Itu huruf yang paling penting kami ingat selama tinggal di Negeri Sakura. Huruf itu adalah 豚. Artinya: babi. Huruf Hiragana dan Katakana bisa dipelajari kemudian. Tetapi untuk kanji babi ini, sejak menginjakkan kaki di Jepang, aku harus benar-benar mengingatnya. Bisa jadi aku agak berbeda dengan pendatang lain yang akan singgah atau tinggal lama di Jepang. Jika turis atau pendatang lain mungkin perlu menghafal huruf-huruf yang berkaitan dengan angka, atau kanji yang berhubungan dengan alam seperti matahari, air, pohon, gunung, sungai, dan lain-lain. Mengapa aku harus menghafal kanji babi? Karena kami harus tetap menjaga keyakinan, meskipun tinggal jauh dari negeri sendiri. Saat itu belum ada Google Translate yang bisa langsung membaca tulisan pada kemasan makanan. Mau tidak mau, aku belajar mengenali huruf-huruf pada label makanan, menu restoran, hingga daftar menu makan siang anak-anak di...

PUSAR dan TODAI

Image
Selama 40 tahun, benda kecil ini tetap kami simpan. Benda ini bukan perhiasan, bukan pula suvenir dari sebuah perjalanan. Ini adalah tali pusar anak kedua kami, Aldian, yang lahir di Jepang. Dulu, benda ini tidak sendirian. Saat akan meninggalkan Saitama Chuo Hospital, seorang perawat memberikan sebuah kotak kayu kecil kepada kami. Di dalamnya ada tali pusar bayi-ku yang baru lahir. Di Jepang memang ada kebiasaan menyimpan tali pusar bayi, yang dikenal sebagai heso no o (へその緒). Bagi keluarga Jepang, tali pusar yang disimpan itu menjadi kenangan dari hari kelahiran sekaligus simbol ikatan antara ibu dan anak. Kotaknya kecil, terbuat dari kayu, dengan hiasan cantik di bagian tutupnya. Aku masih ingat ketika perawat menyerahkan kotak itu kepada kami. Sambil tersenyum, ia berkata: “Silakan, pusar ini ditanam di halaman Tokyo University supaya kelak anaknya bisa kuliah di sana.” Aku pun menerima kotak tersebut sambil tersenyum dan membungkuk seperti layaknya orang Jepang. Dari C...