Sekitar jam 5.30 pagi selalu terdengar suara penyapu jalanan di depan rumah. Awalnya saya pikir petugas baju orange DKI. Pukul 9, pasukan seragam orange datang menyapu jalanan sekitar rumah. Menjadi pertanyaan, apakah seragam orange menyapu dua kali setiap pagi?. Keesokan pagi, saya sengaja ke teras rumah memperhatikan siapa sebenarnya penyapu pagi hari. Ternyata seorang bapak yang sudah paruh baya dengan badan cukup kekar, tidak terlalu tinggi sedang menyapu.
Saya keluar pagar, saya ajak dia ngobrol sambil menanyakan siapa bapak, tinggal dimana dlsb. Namanya Bambang dan hanya menjawab pertanyaan saya bahwa saya ya menyapu saja disekitar sini. Lalu saya tanya tinggal dimana, dijawab dimana saja sambil berusaha menghindari saya dan terus menyapu. Ah barangkali dia belum mau berkomunikasi,
Suatu saat saya liat dia menyapu sore hari. Kemudian saya liat dia bawa sepeda. Saya sapa dia "naik sepeda pak". jawabnya : iya bu, saya terima tambal ban".
Semakin saya penasaran, sebenarnya siapa dia. Saya coba tanya ke ART tetangga yang sedang belanja sayur, namun tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti siapa dia sebenarnya. Bahkan ada yang mengingatkan saya untuk tidak usah terlalu baik pada dia karena agak tidak waras. Sampai suatu saat saya bertemu bendahara RT yang saya lihat cukup sering berkomunikasi dengan pak Bambang. Menurut bendahara RT memang sering dimintai menyapu sekitar RT kami sambil sedikit memberi bantuan uang kepada pak Bambang. Tinggalnya memang tidak jelas dimana dan punya keahlian menambal ban. Begitulah pak Bambang tetap menyapu pagi atau sore, Jika pagi atau sore jalanan rumah bersih, tanda pak Bambang datang menyapu. Pernah sampai beberapa hari tidak muncul, kabarnya sakit.
Pada suatu jumat, ART rumah kami menyiapkan makanan untuk diberikan pada pak Bambang. Nampak sepedanya juga ada beberapa bungkusan makanan yang menurut pak Bambang diberi oleh beberapa warga. Begitulah kehidupan Jakarta yang keras. Ada pak Bambang yang masih belum punya tempat tinggal dan senang berpindah-pindah tempat. Disatu sisi masyarakat Jakarta masih ada yang memberi perhatian pada yang diangggap membutuhkan, tidak seperti digambarkan selama ini bahwa hidup di Jakarta tidak saling kenal satu dengan lainnya.




