Bubur dan Durian: Dua Makanan, Dua Cerita
Ada dua makanan yang punya tempat khusus dalam cerita seleraku. Bubur, karena kenangan masa kecil. Durian, karena sebuah pengalaman yang sampai sekarang masih membekas. Keduanya sama-sama membuatku belajar bahwa pengalaman bisa mengubah cara kita menikmati makanan. BUBUR Ketika kecil di Surabaya, aku sering mengalami asthma. Setiap asthma kambuh, biasanya ada dokter yang datang ke rumah untuk memeriksa, memberi obat, dan melakukan treatment yang tidak lagi kuingat persis bentuk terapinya. Seingatku, ada seperti lampu yang menghangatkan dada dan entah apa lagi. Yang masih sangat kuingat justru satu hal: setiap sakit, aku selalu diberi bubur. Awalnya tentu saja kumakan. Tetapi lama-lama bosan. Sayangnya, bubur tidak bisa kutolak begitu saja. Kata dokter, aku harus makan, sementara makanan lain rasanya tidak berselera. Jadilah bubur makanan wajib setiap kali sakit. Kalau sudah mulai sehat dan nafsu makan kembali, Bapak punya cara sendiri untuk...