Melihat tulisan tanganku, rasanya memang tidak salah jika tulisanku disebut seperti cakar ayam. Memang betul tulisan tanganku tidak ada indahnya. Beruntung zaman sudah berubah. Kemajuan Teknologi mengantarkan jemari tanganku menulis dengan tidak terlalu banyak menggunakan tulisan tangan. Tentu saja masih ada yang harus ditulis dengan tangan, tapi tak apalah kalau hanya menulis di amplop atau sekedar menulis di atas kertas kecil.
Sebenarnya ketika masih remaja hingga mahasiswa, ada kebiasaan menulis buku harian. Tentu dengan tulisan tangan. Kala itu rasanya aku masih bisa membaca tulisan tanganku itu dengan baik. Sayang kebiasaan menulis tangan di buku harian berhenti saat berumah tangga dan mulai punya anak. Sibuk mengurus anak dan beradaptasi hidup di negeri Sakura menjadi alasan tidak sempat menulis. Situasi berubah ketika aku diterima kerja di radio NHK seksi bahasa Indonesia.
Bekerja di NHK awalnya sebagai penyiar. Kemudian aku diberi satu slot acara khusus untuk menceritakan kehidupanku sebagai orang Indonesia yang menjalani kehidupan dengan dua anak yang bersekolah di sekolah Jepang. Ini tantangan yang sekaligus menyadarkan aku bahwa kehidupan di Jepang memang harus ditulis. Hampir 8 tahun hidup di sana. Slot acara itu oleh produser diberi nama: Jullie No Nikki Kara (Dari buku harian Jullie).
Jadi sebenarnya dulu aku cukup rajin menulis. Tapi mengapa sekarang tidak lagi menulis seaktif dulu? Perlu tantangan apa untuk bisa menulis lagi? Padahal aku punya keinginan untuk bisa bercerita tentang perjalanan hidupku, setidaknya untuk anak-cucuku. Hanya dalam bentuk tulisanlah cerita itu bisa tetap diikuti dan didokumentasi

No comments:
Post a Comment