PUSAR dan TODAI
Selama 40 tahun, benda kecil ini tetap kami simpan.
Benda ini bukan perhiasan, bukan pula suvenir dari sebuah perjalanan.
Ini adalah tali pusar anak kedua kami, Aldian, yang lahir di Jepang.
Dulu, benda ini tidak sendirian.
Saat akan meninggalkan Saitama Chuo Hospital, seorang perawat memberikan sebuah kotak kayu kecil kepada kami. Di dalamnya ada tali pusar bayi-ku yang baru lahir.
Di Jepang memang ada kebiasaan menyimpan tali pusar bayi, yang dikenal sebagai heso no o (へその緒). Bagi keluarga Jepang, tali pusar yang disimpan itu menjadi kenangan dari hari kelahiran sekaligus simbol ikatan antara ibu dan anak.
Kotaknya kecil, terbuat dari kayu, dengan hiasan cantik di bagian tutupnya.
Aku masih ingat ketika perawat menyerahkan kotak itu kepada kami. Sambil tersenyum, ia berkata:
“Silakan, pusar ini ditanam di halaman Tokyo University supaya kelak anaknya bisa kuliah di sana.”
Aku pun menerima kotak tersebut sambil tersenyum dan membungkuk seperti layaknya orang Jepang.
Dari CURUP ke TODAI
Sebenarnya perjalanan Lukman Hakim sampai ke sana cukup panjang.
Dia lahir di kota kecil Curup, Bengkulu. Pendidikan SD sampai SMA ditempuhnya di Palembang, kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia.
Kehidupan di kampus UI tidak hanya memberinya ijazah Sarjana Farmasi dan Apoteker. Masa itu juga menempa dirinya menjadi seorang organisatoris dan aktivis mahasiswa. Dia bahkan dipercaya menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI.
Bisa jadi pengalaman sebagai aktivis yang sempat ditahan dan disidang itulah yang kemudian membuat perjalanan kariernya tidak berjalan seperti kebanyakan orang.
Ia tidak menjadi pegawai swasta, misalnya bekerja di pabrik obat sesuai dengan ilmunya. Ia diterima menjadi pegawai negeri sipil di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan mendapat kesempatan untuk belajar ke Jepang. Pendidikan S2 dan S3 kemudian ditempuhnya di Jepang.
Seorang anak yang dilahirkan di kota kecil Curup, Bengkulu, mungkin pada waktu itu tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya akan berada di Tokyo dan menempuh pendidikan S3 di Todai.
Dan di tengah perjalanan itulah, seorang bayi laki-laki lahir.
PUSAR dan CAESAR
Menjalani proses kehamilan tidak mudah, apalagi harus dijalani di negeri orang.
Suamiku menghendaki aku tetap di Jepang, bukan pulang ke Indonesia. Bisa jadi dia ingin menemani proses kehamilan dan kelahiran anak kedua karena saat kelahiran anak pertama dia tidak sempat menunggunya. Saat itu dia sudah harus berangkat ke Jepang untuk pendidikan S2.
Sementara itu, aku merasa lebih nyaman melahirkan anak pertama di Jakarta karena ibuku adalah seorang bidan. Walaupun saat aku melahirkan, beliau sudah tidak lagi berprofesi sebagai bidan, tetap ada rasa nyaman membayangkan melahirkan didampingi ibu, dibanding harus melahirkan di Jepang.
Akhirnya aku menjalani kehamilan kedua jauh dari keluarga, tanpa ART.
Salah satu yang paling aku rindukan waktu itu adalah makanan pedas Indonesia.
Yang tersedia dengan rasa asam dan pedas adalah kimchi. 😄
Selain kimchi, aku sanggup makan sushi dengan banyak wasabi, seolah-olah menjadi kompensasi rasa pedas, walaupun sesungguhnya tentu berbeda.
Aku tetap harus beraktivitas seperti biasa. Ke sana kemari naik sepeda.
Beruntungnya, anak pertamaku tumbuh lucu seperti anak Jepang dan banyak diajak bermain oleh sesama mahasiswa yang tinggal di satu apartemen.
Ketika usia kehamilan memasuki tujuh bulan, ternyata posisi bayi sungsang.
Sekalipun sudah mencoba nungging dan mengepel lantai seperti saran dokter, nyatanya sampai waktu melahirkan posisi bayi tetap tidak berputar.
Belakangan diketahui bayi kami cukup besar dan panjang. Dokter akhirnya memutuskan bahwa persalinan harus dilakukan melalui operasi Caesar.
Bayi itu lahir dengan berat 3.706 gram dan panjang 53 sentimeter.
Karena operasi Caesar, aku harus tinggal lebih lama di rumah sakit dibandingkan ibu yang melahirkan secara normal.
Ada rasa ingin segera keluar dari rumah sakit, tetapi bekas operasi belum memungkinkan untuk pulang lebih cepat.
Muncul rasa tidak tenang dan gelisah membayangkan suami harus mengurus anak pertama kami yang masih belum berusia dua tahun tanpa ART.
Ada rasa berat, sakit dan sedih.
Tetapi kondisiku memang belum memungkinkan untuk pulang lebih cepat.
Ternyata ada rezeki yang Allah siapkan di balik operasi Caesar yang aku jalani.
Biaya persalinan Caesar ditanggung oleh asuransi karena Caesar merupakan tindakan medis yang memenuhi ketentuan saat itu. Jadi kami tidak mengeluarkan biaya apa pun.
Ini rezeki yang luar biasa, sementara saat itu kami mendapat informasi bahwa biaya melahirkan normal cukup mahal.
Dan tiba saatnya kami meninggalkan rumah sakit.
Bukan hanya pulang dengan seorang bayi laki-laki.
Kami juga membawa pulang sebuah kotak kayu kecil berisi tali pusarnya, berikut Surat Keterangan Lahir dari rumah sakit. Di dalamnya ada foto bayi, foto orang tua, berat dan panjang bayi, lengkap dengan cap telapak kaki bayi.
Surat itu kemudian kami bawa ke KBRI untuk mendapatkan Surat Keterangan Lahir.
TODAI – Tokyo Daigaku
TOKYO UNIVERSITY
Tiga tahun setelah kelahiran Aldian, suamiku diterima untuk menempuh pendidikan S3 di TODAI.
Aku kembali teringat pada pusar Aldian dan ucapan perawat di rumah sakit itu.
Sesungguhnya pusar itu tidak pernah kami tanam di halaman Tokyo University.
Serasa benar pepatah yang mengatakan bahwa ucapan adalah sebuah doa.
Rupanya, menjadi mahasiswa Tokyo University memang merupakan salah satu cita-cita anak muda Jepang saat itu.
Aku masih ingat penjual sayur (yaoya-san) di dekat rumah kami. Setelah tahu suamiku kuliah di Todai, dia sering mengelu-elukan kami.
“Erai hito…”
Orang hebat..
Tidak jarang pula orang Jepang membungkuk memberi hormat (ojigi) setelah tahu bahwa suamiku sedang kuliah S3 di Todai.
Saat itu aku baru menyadari, ternyata ucapan sederhana seorang perawat tiga tahun sebelumnya terasa seperti sebuah doa yang terkabul.
Empat Puluh Tahun Kemudian
Empat puluh tahun berlalu.
Kotak kayu kecil yang cantik dari rumah sakit di Saitama itu sekarang entah ke mana.
Hilang.
Tetapi tali pusarnya masih ada.
Begitu juga Surat Keterangan Lahirnya.
Dan setiap kali melihat pusar kecil itu dan foto kami yang masih menempel di surat keterangan lahir, ingatanku seperti berjalan mundur.
Teringat masa ketika kami masih muda.
Hidup sederhana.
Jauh dari keluarga.
Penuh harapan dan cita-cita.
Teringat ucapan perawat tentang pusar yang sebaiknya ditanam di halaman Todai.
Pusar itu tidak pernah kami tanam di sana.
Kami membawanya pulang ke Indonesia dan menyimpannya sampai sekarang.
Empat puluh tahun kemudian, bayi itu sudah menjadi seorang ayah dengan tiga anak.
Dan benda kecil yang dulu diberikan seorang perawat di rumah sakit Jepang itu masih ada.
Ternyata, kenangan yang paling berharga sering kali memang tersimpan di dalam benda yang paling sederhana.🤍

.jpeg)
.jpeg)
MasyaAllah, sebuah nostalgia yang begitu indah dan penuh hikmah.
ReplyDeleteTernyata Allah SWT menyimpan jejak perjalanan hidup seseorang bahkan sejak awal kelahirannya. Tali pusar itu bukan sekadar kenangan, tetapi menjadi saksi bahwa setiap langkah kehidupan telah berada dalam kehendak dan ketetapan-Nya.
DeleteSemoga kisah ini menjadi pengingat bahwa ikhtiar, doa, dan takdir Allah selalu memiliki jalan yang indah, meski baru kita pahami bertahun-tahun kemudian. Barakallahu fiikum. Natsukashii...
Begitulah Prof Donny.... kita tidak pernah tahu rencana Allah yang kadang saat menjalani tidak sesuai dengan keinginan kita. Seharusnya memang kita harus menjalani dengan ikhlas ya setiap langkah yang ada di depan kita
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSaya adalah salah satu karyasiswa yang bertetangga dengan keluarga pak Lukman Hakim di Kikunodai Chofu Tokyo. Mengenal Aldian kecil yang aktif dan berceloteh dalam bahasa Jepang khas anak kecil warga negara Jepang😊. Alhamdulillah, Aldian bertumbuh baik dan bahkan sudah berkeluarga juga. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT dan saling mendoakan dimanapun kita berada.🤲
DeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteIya Dida, masih saya ingat kok Aldian sering ke rumah depan main dan gangguin Om-Om . Sehat dan sukses selalu ya, Semoga Allah swt senantiasa menjaga kita semua. Amiinn YRA
DeleteBu Jullie, masih ingat dengan Yusuf? Tetangga sebelah rumah di Kikunodai Chofu. Kita angkatan kedua di rumah itu. Dulu sering main-main dengan Ayuna dan Aldian ketika mereka masih kecil. Sya masih menyimpan poto ayuna dan aldian ketika jalan-jalan ke Nikko.
ReplyDeleteNama Yusuf pernah kenal tapi lupa wajah nih, Maaff ya.. Boleh dong dibagi foto Ayuna dan Aldian... Duh jadi ingat kedua anakku sering main dan gangguin Om-Om nya
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete