BELAJAR MENJAGA KEYAKINAN
Ketika aku memutuskan ikut suami ke Jepang, aku harus menghafal satu huruf kanji terlebih dahulu.
Itu huruf yang paling penting kami ingat selama tinggal di Negeri Sakura.
Huruf itu adalah 豚.
Artinya: babi.
Huruf Hiragana dan Katakana bisa dipelajari kemudian. Tetapi untuk kanji babi ini, sejak menginjakkan kaki di Jepang, aku harus benar-benar mengingatnya.
Bisa jadi aku agak berbeda dengan pendatang lain yang akan singgah atau tinggal lama di Jepang. Jika turis atau pendatang lain mungkin perlu menghafal huruf-huruf yang berkaitan dengan angka, atau kanji yang berhubungan dengan alam seperti matahari, air, pohon, gunung, sungai, dan lain-lain.
Mengapa aku harus menghafal kanji babi?
Karena kami harus tetap menjaga keyakinan, meskipun tinggal jauh dari negeri sendiri.
Saat itu belum ada Google Translate yang bisa langsung membaca tulisan pada kemasan makanan. Mau tidak mau, aku belajar mengenali huruf-huruf pada label makanan, menu restoran, hingga daftar menu makan siang anak-anak di sekolah.
SD dan MBG
Saat anak-anak kami memasuki usia SD, mereka bersekolah di sekolah dasar negeri Jepang. Sekolah Indonesia cukup jauh, maka kami memutuskan mereka masuk SD Jepang saja.
Seperti anak-anak Jepang lainnya, mereka juga mengikuti Nyūgakushiki (upacara penerimaan siswa baru) sambil menyanyikan lagu Ichinensei ni Nattara (“Kalau Sudah Menjadi Anak Kelas Satu”) yang sangat terkenal itu.
Beruntung, anak-anakku sebagai orang Asia bisa diterima dengan baik oleh teman-teman SD-nya.
Bisa jadi karena mereka sudah bersekolah di TK di Jepang dan kemampuan bahasa Jepangnya sudah cukup lancar.
Setiap hari mereka mendapat makan siang yang dimasak di dapur sekolah yang sangat besar.
Akhir bulan, sekolah membagikan jadwal menu makanan untuk satu bulan ke depan. Dari daftar menu itu aku bisa mengetahui menu mana yang menggunakan babi.
Kalau pada menu sekolah ada hidangan berbahan babi, aku menyiapkan bekal dari rumah. Bentuk dan tampilannya aku usahakan semirip mungkin dengan menu teman-temannya agar mereka tidak merasa berbeda.
Dari situlah aku pelan-pelan belajar memasak berbagai masakan Jepang.
Sekolah juga menyediakan susu sapi murni 100% (牛乳 / gyūnyū) tanpa perasa atau pemanis.
Jika sekarang pemerintah mencanangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), aku langsung teringat bahwa anak-anak kami sudah menikmati makan siang bergizi di sekolah Jepang lebih dari empat puluh tahun yang lalu.
Kehidupan terus berjalan.
Sekalipun sesekali aku datang ke sekolah anak-anak membawa menu sendiri, aku lihat anak-anakku tetap tumbuh bahagia, layaknya anak-anak kecil usia SD pada umumnya.
Mereka berangkat sekolah dengan ceria, berjalan kaki dengan Randoseru di punggung. Ikut Matsuri pada musim panas dan mengenakan yukata. Ikut undōkai (festival atau hari olahraga) dan bermain bersama teman-temannya seperti anak-anak Jepang lainnya.
Tinggal di negeri orang mengajarkan kami untuk menghargai budaya setempat tanpa meninggalkan prinsip yang kami pegang.
Yang membuatku paling terharu, bahkan ketika masih duduk di kelas 1 SD, anak-anak sudah mampu menjelaskan dengan sederhana kepada teman-temannya mengapa mereka tidak makan babi.
Kini, lebih dari empat puluh tahun kemudian, aku masih ingat huruf pertama itu.
Bukan karena bentuknya sulit, melainkan karena dari satu huruf itulah kami belajar bahwa tinggal di negeri orang berarti menghormati budaya setempat, sambil tetap setia pada keyakinan yang kami pegang.


Ini kisah yg bagus, krn dari kisah masa kecilnya anak2 ini, kita belajar bahwa keyakinan yg ditanam sejak dini akan menjadi kompas yang menuntun langkah, sejauh apa pun perjalanan hidup membawa kita ya 😊👍👍
ReplyDeleteBetul Prof. Dony... sekalipun ada hal yang berbeda dengan teman-teman sekolahnya karena tidak makan babi, Alhamdulillah kedua anakku tetap bisa melebur dengan teman-teman dan tetap menjalani kehidupan di Jepang dengan ceria
Delete