Lebih dari Empat Puluh Tahun, dan Kami Masih di Sini
42 tahun…
Ternyata bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan, tetapi tentang siapa yang memilih tetap tinggal, meski sudah saling tahu kurangnya.
Kami tidak selalu sama.
Tidak selalu sepakat.
Bahkan kadang, diam lebih panjang dari kata.
Dan mungkin justru dari semua perjalanan itu, kami pelan-pelan dibentuk menjadi seperti hari ini.
Jauh sebelum sampai di titik ini, pernah ada satu keputusan besar dalam hidup saya.
Rencananya, anak pertama kami akan dititipkan kepada Bapak dan Ibu, sementara saya berangkat kuliah ke Reading University, Inggris. Semangat saya untuk melanjutkan sekolah sedang sangat tinggi. Beasiswa sudah ada. Saat rencana itu diambil, saya bahkan sedang mengikuti kursus bahasa Inggris di British Councul sebuah lembaga yang ditunjuk, di gedung Wijoyo Center. Di sana kami pernah diperlihatkan film tentang berbagai aktivitas di Reading. Entah kenapa, saat itu perasaan saya benar-benar membuncah. Rasanya, sebentar lagi saya akan berangkat.
Tapi bapak berkata,
“Ibu bapak tentu bisa menjaga cucu pertama ini… tapi coba renungkan, sebenarnya apa tujuanmu menikah?”
Saya diam.
Dan dari situlah arah hidup saya berubah.
Saya memilih ikut suami studi ke Jepang.
Ternyata, di sana Allah membuka jalan yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan.
Kami tinggal di Jepang selama sembilan tahun.
Bukan semata tentang negaranya, tetapi tentang bagaimana kami belajar hidup.
Anak-anak masih kecil.
Satu anak lahir di sana.
Kami jauh dari keluarga, jauh dari apa yang biasa kami kenal.
Bahasa berbeda.
Iklim berbeda.
Bahkan makanan pun harus kami cari dan sesuaikan.
Saya, orang Jawa Timur.
Suami, orang Sumatera Selatan.
Tapi perlahan, perbedaan itu tidak lagi terasa penting.
Karena di negeri orang, yang kami punya hanyalah satu: menyatunya kami berdua.
Kami belajar bersama.
Belajar cukup.
Dan membesarkan anak-anak dengan cara kami sendiri.
Tanpa kami sadari, mungkin justru di sanalah kehidupan kami benar-benar dibentuk.
Di Jepang, saya juga mendapat kesempatan menjadi part timer atau arubaito di NHK seksi bahasa Indonesia, suatu kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan apalagi direncanakan.
Dari pekerjaan itu, saya bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Cukup untuk menabung dan mengajak anak-anak bepergian ke beberapa tempat wisata, termasuk Tokyo Disneyland.
Kami juga bisa menikmati berbagai tempat yang memang dirancang untuk dunia anak-anak. Bagi kami waktu itu, bisa membawa anak-anak menikmati semua itu, seperti keluarga Jepang pada umumnya, adalah kebahagiaan kecil yang sangat berarti.
Saya tidak pernah membayangkan, keputusan untuk mengikuti suami ke Jepang justru membuka pintu kehidupan seperti ini.
Saya sempat berpikir,
“Nanti setelah suami selesai S3, gantian saya kuliah.”
Tetapi hidup membawa cerita yang berbeda.
Kuliah itu tidak pernah terwujud.
Kami kembali ke Jakarta.
Hidup terus berjalan.
Anak-anak tumbuh, satu per satu menemukan jalannya sendiri.
Hari ini, dua anak kami sudah berkeluarga.
Dan dari mereka, kami mendapatkan enam cucu.
Kalau melihat kembali perjalanan 42 tahun ini, saya semakin merasa…
Mungkin hidup bukan selalu tentang memilih yang paling tinggi.
Kadang, hidup adalah tentang memilih apa yang paling kita yakini, lalu menjalaninya dengan ikhlas.
Dan sampai hari ini, saya tidak pernah menyesali pilihan itu.
Karena ternyata Allah menggantinya dengan kehidupan yang sangat indah.
42 tahun…
Dan kami masih di sini.

Renyah, gurih, well-written, relate untuk situasi saat ini untuk yang masih mencari arah.
ReplyDeleteSuwuunn...Happy nih kalau tulisan ini bisa relate dan menemani mereka yang masih mencari arah.
DeleteKisah Bang Prof Lukman dan Mbak Jullie begitu hangat dan menyentuh. Lebih dari 40 tahun berlalu, namun persahabatan dan kenangan tetap terasa indah. Natsukashii… kenangan lama yang tetap hangat di hati. 😊
ReplyDeleteKenangan indah ya, perjuangan keluarga mahasiswa
Delete