Inem
Tapi rupanya, setelah kembali ke Jakarta, keadaan berbeda.
Anak-anak sepenuhnya harus didampingi karena mereka sedang beradaptasi lagi dengan cuaca, bahasa, makanan, dan kehidupan baru.
Mereka masih usia SD. Mereka terbiasa dengan kehidupan di Jepang yang rapi dan teratur. Banyak hal yang mereka temui di Jakarta yang sebelumnya tidak pernah mereka jumpai di sana.
Hal sederhana, misalnya ketika melihat corat-coret di tembok jalanan.
Mereka mencoba mencerna penjelasanku dengan baik, tetapi menurut mereka, hal seperti itu tetap tidak selayaknya dilakukan.
Anak-anak yang biasa berjalan kaki dan naik kereta juga tidak mungkin aku ajak berjalan kaki di tengah jalan yang ramai tanpa trotoar.
Saat itu belum ada KRL atau MRT seperti sekarang. Yang ada Kopaja dan Metromini, dengan penumpang yang bahkan sering bergelantungan di pintu.
Di situlah Mba Inem muncul. 🤍
Setiap pagi, dia lewat di depan rumah.
Karena hampir setiap hari melihat Mba Inem lewat dan setiap kali lewat dia selalu tersenyum, suatu pagi saya mencoba menyapanya.
Saya tanyakan dari mana dan mau ke mana.
Rupanya, dia bekerja sebagai buruh cuci di rumah warga yang tidak jauh dari rumah kami di Jl. Cidodol. Pulang dan pergi bekerja, dia selalu melewati depan rumah saya.
Saya memberanikan diri bertanya apakah dia masih punya waktu untuk membantu mencuci di rumah saya.
Saya sampaikan bahwa saya memakai mesin cuci, jadi tenaga tangannya tidak perlu terlalu banyak.
Begitulah. Akhirnya Mba Inem membantu mencuci dan menyetrika secara paruh waktu, sambil tetap bekerja sebagai tenaga cuci di rumah lain.
Dalam perjalanan waktu, Mba Inem kemudian memutuskan bekerja penuh waktu di rumah kami dan meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh cuci di rumah lain.
Seiring dengan pertumbuhan anak-anak, rasanya saya perlu lebih mengaktifkan dapur dengan memasak masakan rumahan.
Dan saya pikir, Mba Inem bisa diberdayakan untuk itu.
Fokus saya saat itu adalah memasak makanan tanpa MSG.
Maka bersama-sama kami mencoba beberapa resep masakan dari buku-buku makanan sehat yang banyak dijumpai di toko buku Gramedia.
Butuh waktu untuk mengedukasi Mba Inem yang sudah terbiasa menggunakan MSG.
Dia pernah bilang,
“Ini bukan vetsin, Bu. Ini Sasa.”
Begitu kilahnya. 😄
Dengan menggunakan buku-buku resep makanan sehat, akhirnya Mba Inem terbiasa memasak tanpa MSG. Sebagai gantinya, kami menggunakan lebih banyak bawang merah dan bawang putih.
Maka pelan-pelan beralihlah perannya, dari tukang cuci menjadi juru masak.
Pekerjaan mencuci dan menyetrika kemudian diserahkan kepada pembantu lain.
Nah, pembantu kedua ini sering sekali berganti-ganti orang. Ads saja penyebab dan alasannya.
Sementara Mba Inem tetap bertahan.
Bukan hanya bertahan satu-dua tahun, tetapi hingga lebih dari 30 tahun.
Dia ikut menyaksikan dua anak kami menginjak remaja, dengan segala riuh gemuruhnya masa remaja.
Dia ikut mengurus pernikahan mereka.
Dan dia juga menyaksikan enam cucu lahir.
Kalau kedua anakku memanggilnya Mba, sesuai dengan sosoknya saat itu yang masih muda.
Sedangkan cucu-cucu memanggilnya:
Bude. 🤍 Bude Inem.
Mereka mengenal Bude Inem sebagai sosok seorang ibu yang baik dan sabar, dengan postur tubuh yang sudah lebih berisi. Saat masih kecil, cucu-cucu nyaman berada dalam gendongannya.
Dari tukang cuci menjadi juru masak
Sebagai juru masak, Mba Inem berani mencoba berbagai resep.
Di tangan Mba Inem pula, masakan rumahan terasa berbeda.
Sampai sekarang, anak-anak dan cucu-cucu masih mencari masakan Mba Inem. Kami semua menyukai masakannya.
Dulu anak laki-lakiku, Aldian, punya menu kesukaan: Chicken Cordon Bleu. Aku sendiri sampai “enek” melihatnya karena terlalu sering dimasak. 😄
Setelah dia kuliah di Malaysia dan kemudian menikah, menu itu hilang dari daftar permintaan. Apalagi istrinya juga punya hobi memasak.
Ada juga rawon, yang punya nilai emosional berbeda karena Mba Inem belajar langsung dari ibuku. Suamiku yang orang Palembang pun menyukai rawon Mba Inem.
Lalu generasi cucu punya selera sendiri: ayam kecap, sop iga, sup buntut, ayam garang asem, dan bacem gula kelapa. Bacem ini dimasak tanpa kecap.
Dari sini saya kemudian menyadari sesuatu yang lebih besar. Mba Inem bukan hanya memasak untuk mengisi meja makan.
Dia ikut merekam perubahan selera keluarga kami selama puluhan tahun.
Bukan hanya melihat pulau lain
Ada satu cerita lagi tentang Mba Inem yang menurutku menarik.
Bude Inem sudah pernah naik pesawat.
Awalnya dia sangat menghindari naik pesawat, yang dengan lugunya mba Inem bilang takut pesawatnya jatuh. Tetapi ketika anak yang diasuhnya mendapat tugas di Balikpapan, muncul keberanian dalam dirinya untuk naik pesawat.
Dia ingin melihat kehidupan keluarga di Balikpapan.
Dari situlah dia berani naik pesawat dan melihat pulau lain selain Jawa.
Begitu pula ketika Aldian ditempatkan di Kuala Lumpur. Dia justru bersemangat pergi ke KL. Tidak ada lagi rasa takut naik pesawat.
Bukan hanya melihat pulau lain, Bude Inem akhirnya bisa melihat negara lain.
Sudah tentu, Mba Inem sekarang juga punya paspor.
Bagi saya, itu sebuah capaian yang luar biasa.
Tiga puluh tahun lebih
Seiring bertambahnya usia, baik aku maupun Mba Inem, aku selalu berdoa semoga kami tetap bisa menua bersama dalam keadaan sehat.
Semoga dia tetap bisa memasak untuk kami berdua, untuk anak dan cucu, bahkan untuk tamu-tamu dan kenalan dekat kami.
Masakan Mba Inem sudah dikenal oleh beberapa teman dekat.
Maka tidak heran jika beberapa masakan rumah kemudian ikut dibawa keluar melalui Bhumi Rasa, seperti Bacem Gula Kelapa dan Ayam Kecap Karamel.
Ada orang-orang yang datang untuk bekerja. Tetapi karena waktunya panjang...akhirnya menjadi bagian keluarga.


Comments
Post a Comment