Bu Wartina dan ritual kecil yang bertahan hampir dua puluh tahun

 Di rumah kami, pijat bukan sekadar urusan pegal linu. Ia sudah seperti bagian dari perjalanan keluarga.

 

Sejak bayi, keluarga kami membiasakan memijat bayi. Ibu dan mbah-mbahku sering mengatakan bahwa bayi perlu dipijat supaya peredaran darah bagus, bisa relaks dan tidur lebih nyenyak.

 

 

RITUAL PIJAT DAN MINUM JAMU

 

Menginjak usia remaja, setiap selesai datang bulan, hampir wajib dipijat dan sama wajibnya dengan minum jamu. Ibu sudah pasti menyiapkan pemijat dan jamu. Kadang jamu dikirim oleh mbah yang pahitnya bukan main. Saat itu belum ada jamu berbentuk pil atau kapsul. Bentuknya bubuk yang diseduh atau rebusan.

 

Ritual pijat berlanjut saat habis melahirkan dan tentu tetap minum jamu agar kesehatan pasca melahirkan segera pulih.

 

Saat aku melahirkan kedua anakku, selain minum jamu bersalin, aku juga menggunakan ramuan yang diletakkan di perut dan pelipis, juga mengenakan bengkung. Bahkan saat aku melahirkan anak kedua di Jepang, ibuku mengirim semua jamu bersalin dari Indonesia. Dan aku tetap patuh melakukannya, yakin bahwa itu akan memberikan kebaikan.

 

Berbeda dengan suamiku yang justru kebalikannya. Jangankan minum jamu, pijat juga bukan menjadi kebiasaannya.

Masih kuingat ketika pertama kali diajak pijat oleh keluargaku, dia tidak bisa menikmati, yang ada malah kegelian. Dan terpaksa kakinya dipegangi. Tapi setelah beberapa kali mencoba, lama-lama bisa menikmati bahkan jadi ketagihan. Begitu juga minum jamu, sudah bisa merasakan manfaatnya.

 

Kebiasaan pijat terhenti ketika kami tinggal lama di Jepang. Selama di sana, tidak ada keinginan dipijat. Bisa jadi karena kami terbiasa bergerak, ke sana kemari berjalan kaki, naik sepeda dan menggunakan transportasi kereta. 

 

Setelah sampai Jakarta, kebiasaan pijat muncul lagi. Mulai menjajal beberapa tukang pijat atas rekomendasi teman yang bisa dipanggil ke rumah. Pijat di rumah akhirnya berhenti saat menemukan Bersih Sehat Pasar Mayestik. Suasananya nyaman dengan aromaterapi yang menenangkan hati, ditambah terapis yang profesional. 

 

Selain Bersih Sehat Mayestik, kami pernah juga ke Bersih Sehat Hotel Sahid, dan Keris Gallery yang kemudian pindah ke Wahid Hasyim dan selanjutnya disebut Bersih Sehat Menteng. Di situlah aku bertemu dengan Bu Wartina.

 

Sejak sekitar tahun 2007, Bu Wartina menjadi pemijatku hingga beliau pensiun pada tahun 2017.





 

PENSIUN

 

Saat Bu Wartina pensiun, kami pun sudah memasuki masa pensiun.  Aku sempat berpikir kebiasaan pijat akan berakhir. Ternyata tidak.

 

Walaupun suamiku memasuki usia pensiun, kami masih diberi Allah kesibukan, sehingga kebutuhan dipijat tetap ada. 

 

“Aku sudah merasa nyaman dengan pijatan Bu Wartina. Rasanya malas mencoba dengan yang lain”. 

 

Kalau sebelum Bu Wartina pensiun, aku yang mendatangi tempat kerjanya. Setelah pensiun, gantian Bu Wartina yang mendatangi rumah kami.




Bukan hanya ke rumahku, tetapi juga ke rumah anakku, termasuk memijat cucu-cucu. Sekarang juga memijat beberapa anggota keluarga yang lain, seperti tante, adik dan sepupu-sepupu.

Sementara itu, suamiku punya pemijat laki-laki sendiri.


Hampir dua puluh tahun berlalu. Bu Wartina pun bertambah usia, seperti aku yang juga bertambah usia. Tetapi beliau tetap setia mendampingi kami, bahkan ikut menyaksikan cucu-cucu tumbuh besar.

 

Setelah 42 tahun pernikahan, ternyata bukan hanya suka duka yang kami jalani bersama. Urusan pijat pun akhirnya menjadi ritual kecil yang sama-sama kami nikmati. 

 

Senang rasanya, sampai hari ini Bu Wartina masih tetap menjadi bagian dari kebiasaan kecil keluarga kami. Semoga tetap sehat, supaya langkah dan pijatannya masih terus menemani kami untuk waktu yang panjang 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Lebih dari Empat Puluh Tahun, dan Kami Masih di Sini

PUSAR dan TODAI

BELAJAR MENJAGA KEYAKINAN