DUA BUDAYA SATU RUMAH

Ketika hati mulai memilih pasangannya dan hubungan sudah berjalan sekian waktu, tentu banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika mulai berpikir untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Di awal perjumpaan, aku mengenalnya sebagai seorang tokoh mahasiswa. Di antara riak gelombang pergerakan mahasiswa itu, diam-diam kami merajut cinta.

Tentu berbeda rasanya ketika mulai berpikir, akan dibawa ke mana langkah ini.

Ada kekhawatiran, jangan-jangan nantinya dia akan lebih menyukai dunia politik yang mungkin akan banyak menyita waktunya di luar rumah daripada memperhatikan keluarga.

Kekhawatiran itu muncul berawal dari ucapan tante kost-ku tentang kebiasaan para aktivis politik yang umumnya lebih asyik dengan dunianya dan sering mengabaikan rumah tangga. Ucapan itu disampaikan karena tante kost-ku melihat seringnya dia datang ke Bogor untuk menemuiku.

Ucapan itu terus terngiang-ngiang, sementara waktu berjalan terus. 

Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu pelan-pelan berkurang. Aku melihat bagaimana dia terus menunjukkan kapasitasnya, juga menyampaikan rencana-rencananya, termasuk keinginannya untuk terus meningkatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ucapan tante kost-ku pelan-pelan hilang dari kekhawatiranku.

Sampai di sini, ada rasa tenang.

   

Tapi ternyata masih ada satu hal lagi yang sempat menjadi pertimbangan: budaya.

Aku dari Jawa Timur, sementara dia numpang lahir di Curup, Bengkulu, dan sejak umur tiga bulan sampai SMA tinggal di Palembang.

Aku punya bayangan bahwa orang Sumatra keras dalam bertutur kata. Sementara aku sendiri orang Jawa Timur, yang juga terbiasa dengan gaya bicara terus terang dan blak-blakan.

Ketika dua orang dari dua latar belakang budaya yang berbeda memutuskan untuk menjalani hidup bersama, tentu ada banyak hal yang harus dipelajari dan disesuaikan.

Dan ternyata perbedaan itu bukan hanya soal cara berbicara.

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang sejak kecil sudah terasa begitu biasa bagi masing-masing.


Salah satunya adalah jamu dan pijit.

Bagi keluargaku, terutama untuk anak perempuan, jamu dan pijit sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang hampir wajib.

Setelah selesai datang bulan, anak perempuan biasa dijamu dan dipijit.

Jadi, bagi aku, jamu dan pijit bukan sesuatu yang aneh. Itu bagian dari kebiasaan yang sudah kukenal sejak kecil.

Sementara dia tentu tidak begitu. Di keluarganya, kebiasaan seperti itu tidak ada.

Bahkan ketika pertama kali keluargaku mengajaknya pijit, reaksinya justru membuatku geli.

Dia kegelian!

Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga melihat bagaimana kebiasaan yang dahulu begitu berbeda itu perlahan berubah.

Yang tadinya dia tidak terbiasa pijit, sekarang pijit justru menjadi kegiatan rutin kami.

Dan yang dulu tidak punya kebiasaan minum jamu, sekarang dia sudah bisa minum jamu.

Tidak ada yang memaksa.

Ada satu hal lagi tradisi keluargaku yang berkaitan dengan jamu, yaitu perawatan setelah melahirkan. Ada ramuan yang digunakan untuk perawatan seluruh badan.

Ini tentu bukan kebiasaan yang dia kenal dari keluarganya. Tetapi dia bisa menerima dan menghargai kebiasaan yang aku bawa dari keluargaku. Ada kekawatiran jangan-jangan dia tidak tahan dengan bau ramuan atau terganggu melihat ampas ramuan yang bisa membuat kamar jadi berantakan.

Tetapi dia bisa menerima dan menghargai kebiasaan yang kubawa dari keluargaku.

Bagiku, penerimaan seperti itu terasa istimewa

Semuanya terjadi perlahan. Ketika dua orang menjalani hidup bersama, mereka akan saling mengenal kebiasaan pasangannya, lalu tanpa sadar saling menyesuaikan.

 

PEMPEK ATAU RAWON






Begitu pula dengan makanan.

Tahun 1979, ketika kami masih dalam masa saling mengenal, aku diajak makan pempek di Pempek Alamo, yang waktu itu masih berlokasi di Lapangan Persija Menteng, Jakarta.

Sebagai gadis Jawa Timur yang sejak kecil akrab dengan rawon, rujak cingur, dan pecel, aku belum pernah mengenal pempek sebelumnya.

Ternyata aku langsung suka.

Sejak saat itu, bukan hanya dua orang yang saling mengenal, tetapi juga dua budaya kuliner yang perlahan masuk ke dalam kehidupan kami.

Aku belajar menyukai pempek, model, dan tekwan.

Sebaliknya, dia yang awalnya tidak bisa dengan makanan yang ada petisnya, akhirnya bisa akrab dengan rawon, pecel, dan berbagai masakan Jawa Timur lainnya.

Sejak dulu dia memang tidak bisa makan terasi. Setelah mengenal aku, ternyata petis pun tidak bisa dia makan.

Sampai sekarang tetap begitu.

Aku menghargainya dan tetap bisa menyiapkan makanan tanpa petis dan terasi.

 

Puluhan tahun berlalu.

Sampai sekarang, cita rasa Palembang dan Jawa Timur masih sering hadir berdampingan di meja makan kami.

 

ENAM TAHUN SALING MENGENAL

Selama enam tahun saling mengenal sebelum menikah, kami perlahan belajar tentang perbedaan-perbedaan itu.

Belajar menyesuaikan diri, memahami kebiasaan masing-masing, dan menerima bahwa tidak semua hal harus dibuat sama.

Dan ternyata, kekhawatiranku tentang cara bertutur orang Sumatra juga tidak terbukti.

Dia justru lembut dalam bertutur kata.

Lembut, tetapi punya prinsip.

Dari situ aku belajar bahwa daerah asal tidak selalu menentukan seperti apa seseorang ketika kita benar-benar mengenalnya.

Enam tahun itu menjadi masa ketika kami saling mengenal bukan hanya sebagai dua orang yang sedang jatuh cinta, tetapi juga sebagai dua orang dengan latar keluarga, kebiasaan, dan budaya yang berbeda.

 

JEPANG MELEBUR PERBEDAAN

Kemudian kehidupan membawa kami ke Jepang.

Dan justru di Jepang itulah sesuatu yang menarik terjadi.

Perbedaan-perbedaan yang dulu terasa di antara kami seperti perlahan menghilang.

Bukan karena Jawa Timur dan Palembang menjadi sama.

Bukan pula karena aku berubah menjadi orang Palembang atau dia berubah menjadi orang Jawa Timur.

Tetapi karena kami berdua menghadapi kehidupan yang sama sekali berbeda.

Kami sama-sama harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jepang.

Bahasanya berbeda.

Budayanya berbeda.

Cara hidupnya berbeda.

Lingkungannya berbeda.

Kami sama-sama harus belajar.

Dalam keadaan seperti itu, rasanya tidak ada lagi “kebiasaanku” dan “kebiasaanmu” sebagai dua hal yang terpisah.

Yang ada adalah kami.

Dua orang yang bersama-sama belajar menjalani kehidupan di negeri yang berbeda dari tempat kami dibesarkan.

Mungkin justru di sanalah proses kami benar-benar menyatu.

Perbedaan yang dulu kami bawa masing-masing akhirnya tidak lagi terasa sebagai batas.

Ada yang aku ikuti dari dia.

Ada yang dia ikuti dari aku.

Ada yang kami tinggalkan.

Ada pula yang akhirnya menjadi kebiasaan baru kami berdua.

Sampai sekarang, aku kadang sudah tidak lagi berpikir mana yang awalnya kebiasaanku dan mana yang kebiasaan dia.

Jamu sudah bisa diminum bersama.

Pijit sudah menjadi kegiatan rutin bersama.

Makanan Palembang dan Jawa Timur bisa berada di meja yang sama.

 

BAHASA JAWA DAN PANGGILAN

Dan tanpa terasa, kebiasaan-kebiasaan dari keluargaku pun ikut mewarnai kehidupan kami.

Bahasa Jawa lebih dominan di rumah. Maklum, aku lebih nyaman berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan Mba Inem. Kebiasaan dan tata cara Jawa pun tanpa sadar ikut mewarnai kehidupan kami.

Untungnya, dia mengerti bahasa Jawa walau tidak lancar menjawabnya. Banyak teman-teman kami juga orang Jawa, sehingga dalam kehidupan sehari-hari bahasa Jawa secara alami ikut masuk dalam percakapan kami.

Ada satu kebiasaan di keluargaku: setiap kali ada yang memanggil, kami menjawab "Dalem" sebagai tanda bahwa kami mendengar.

Dia pun kemudian menerapkannya ketika aku, anak-anak, atau cucu-cucu memanggilnya.

Begitu pula dengan panggilan.

Dulu aku memanggilnya Abang, dan sampai sekarang panggilan itu tetap kupakai ketika kami berdua sedang sendiri atau ketika anak dan cucu tidak bersama kami.

Setelah punya anak, di depan anak-anak dia menjadi Ayah atau OtooSan

Ketika cucu-cucu hadir, panggilannya berubah menjadi Akung.

Dia sendiri yang memilih Akung, bukan Datuk.

Sementara dia sejak awal memanggilku Yank. Panggilan itu tetap dipakainya bahkan setelah kami mempunyai anak. Baru ketika cucu-cucu hadir, aku mulai dipanggil Buti.

Kalau dipikir-pikir, panggilan-panggilan itu seperti mengikuti perjalanan keluarga kami.

Ada panggilan untuk kami berdua, ada panggilan ketika menjadi orang tua, dan ada panggilan ketika kami menjadi kakek-nenek.

 

 MENJADI KAMI

 

Ada juga hal-hal lain dalam kehidupan kami yang menunjukkan bagaimana kami saling menyesuaikan.

Kami tetap terbuka satu sama lain. Aku terbiasa meminta izin kalau akan beraktivitas, bahkan untuk urusan pilihan baju pun sering kali aku menunggu pendapatnya.

Bukan karena harus.

Tetapi karena begitulah cara kami menjalani kehidupan bersama.

Aku tetap ingat posisiku sebagai istri dan dia adalah imam.

Puluhan tahun kemudian, aku melihat bahwa pernikahan ternyata bukan tentang membuat dua orang menjadi sama.

Bukan pula tentang siapa yang harus berubah mengikuti siapa.

Tetapi tentang bagaimana dua orang dengan kebiasaan, keluarga, dan budaya yang berbeda belajar menemukan cara untuk hidup bersama.

 Aku tetap aku.

 Dia tetap dia.

Jawa Timur tetap menjadi bagian dari diriku, Palembang tetap menjadi bagian dari dirinya.

Tetapi dalam perjalanan yang panjang, kami telah membangun sesuatu yang bukan lagi hanya milikku atau miliknya.

Itu menjadi milik kami.

Jullie dan Lukman.

Dua orang dari dua suku, dua daerah, dua latar budaya.

Tetap dengan akar masing-masing.

Tetapi tinggal dalam satu rumah, menjalani satu kehidupan, dan akhirnya memiliki begitu banyak kebiasaan yang menjadi milik kami bersama.

Dua budaya yang berbeda, tetapi satu rumah.

Dua orang yang berbeda, tetapi menjadi satu: Jullie dan Lukman.

Comments

Popular posts from this blog

Lebih dari Empat Puluh Tahun, dan Kami Masih di Sini

PUSAR dan TODAI

BELAJAR MENJAGA KEYAKINAN