Bubur dan Durian: Dua Makanan, Dua Cerita

Ada dua makanan yang punya tempat khusus dalam cerita seleraku.

Bubur, karena kenangan masa kecil.

Durian, karena sebuah pengalaman yang sampai sekarang masih membekas.

 

Keduanya sama-sama membuatku belajar bahwa pengalaman bisa mengubah cara kita menikmati makanan.


 

BUBUR

Ketika kecil di Surabaya, aku sering mengalami asthma. Setiap asthma kambuh, biasanya ada dokter yang datang ke rumah untuk memeriksa, memberi obat, dan melakukan treatment yang tidak lagi kuingat persis bentuk terapinya.

 

Seingatku, ada seperti lampu yang menghangatkan dada dan entah apa lagi.

Yang masih sangat kuingat justru satu hal: setiap sakit, aku selalu diberi bubur.


Awalnya tentu saja kumakan. Tetapi lama-lama bosan.

 Sayangnya, bubur tidak bisa kutolak begitu saja. Kata dokter, aku harus makan, sementara makanan lain rasanya tidak berselera.

Jadilah bubur makanan wajib setiap kali sakit.

 

Kalau sudah mulai sehat dan nafsu makan kembali, Bapak punya cara sendiri untuk membuatku bersemangat makan.

 

Beliau akan membelikanku Soto Gubeng, kesukaanku.


 

ASTHMA SEMBUH, BUBUR TETAP TIDAK MEMBAIK

Semakin beranjak remaja dan dewasa, asthma-ku perlahan membaik.

Ketika sakit, aku juga mulai tidak lagi selalu makan bubur. Aku berusaha makan makanan lain, dan kalau diberi pilihan, pilihanku tetap Soto Gubeng.

 

Cukup lama asthma mengikuti hidupku.

 

Ketika masuk Bogor, asthma-ku sempat kambuh lagi. Bisa jadi karena hawa dingin Bogor, atau mungkin juga karena stres beradaptasi dengan kehidupan baru yang menuntutku untuk lebih mandiri dan belajar menjalani kehidupan di tanah Sunda.

 

Beruntung, di Bogor ada kantor Pertamina beserta klinik dan dokternya. Sebagai anak karyawan Pertamina, aku pun mendapat perawatan dari Pertamina.

 

Alhamdulillah, akhirnya asthma-ku pun berangsur hilang.

Bahkan hujan yang mengguyur Bogor dengan hawa dinginnya tidak lagi membuatku harus selalu berurusan dengan asthma.

 

Tapi ada satu hal yang rupanya tidak ikut sembuh bersama asthma-ku:

kebosananku terhadap bubur.

 

Di mataku, bubur sudah telanjur identik dengan sakit.

 

Sampai sekarang pun aku sebenarnya masih tidak terlalu suka bubur. Walaupun sesekali sudah bisa makan dua atau tiga sendok, itu pun harus bubur dengan banyak topping supaya rasa buburnya agak tertutupi.

 

Jadi, kalau ada yang mengajak makan bubur yang katanya enak, selalu aku tolak atau aku jawab:

 

“Ada makanan lain nggak di tempat itu?”

 

Bubur mengingatkanku pada masa ketika sakit.

 

 

DURIAN

Kalau bubur terbentuk dari kenangan masa kecil, durian berbeda.

 

Dulu, aku justru sangat suka durian.


Aku tidak tahu jenis durian apa yang dulu sering kumakan. Yang jelas, sampai masa SMA, sekitar tahun 1973–1975, aku masih menikmatinya.

 

Sampai suatu hari...

 

Aku muntah hebat setelah makan durian. Bukan sekadar mual sedikit. Muntahnya luar biasa banyak sampai memenuhi lantai kamar.

 

Mungkin karena saat itu aku makan terlalu banyak.

 

Entahlah.

 

Yang jelas, pengalaman itu begitu membekas.

Sejak saat itu sampai sekarang, aku sama sekali tidak bisa menikmati durian lagi.

 

Padahal dunia durian terus berkembang.

Sekarang begitu banyak varietas durian yang katanya luar biasa enak. 

 

Ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, tempat anak kami tinggal, aku pun berhadapan dengan banyak informasi tentang durian yang terkenal seperti Musang King dan Black Thorn.

 

Di Indonesia pun semakin banyak durian yang populer, termasuk Monthong.

 

Tapi tetap saja...

Aku tidak tergoyahkan untuk mencoba.

 

Ada sedikit rasa tidak enak di hati juga karena tidak bisa menemani Abang makan durian.

 

Aku memang tidak bisa mendekat.

Bau durian saja sudah membuatku mundur. Jadi kalau Abang sedang makan durian di taman, aku cukup melihat dari jauh.

 

Dulu aku suka durian.

Sekarang, jangankan ikut makan, mendekat saja aku tidak sanggup.

 

Begitulah selera.

 

Kadang berubah bukan karena kita sengaja mengubahnya, tetapi karena ada pengalaman yang telanjur melekat di ingatan.


 

DUA MAKANAN, DUA KENANGAN

Kalau dipikir-pikir, bubur dan durian sama-sama mengajarkanku hal yang hampir sama.

 

Bubur tidak pernah benar-benar salah. Hanya saja, terlalu sering hadir ketika aku sedang sakit, sehingga dalam ingatanku bubur kemudian identik dengan sakit.

 

Durian juga mungkin tidak salah.

Aku hanya pernah menikmatinya terlalu banyak sampai tubuhku memberi peringatan yang sangat keras.

 

Ini menjadi pengingat kecil untuk diriku sendiri:

Sesuatu yang bisa dinikmati secukupnya, mungkin justru akan bisa kita nikmati lebih lama.

 

Seperti yang diingatkan dalam QS Al-A'raf ayat 31:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”

 

Dan untuk bubur...

Sepertinya aku tetap akan memilih Soto Gubeng. 😄

 

Comments

Popular posts from this blog

Lebih dari Empat Puluh Tahun, dan Kami Masih di Sini

PUSAR dan TODAI

BELAJAR MENJAGA KEYAKINAN